Sergap.online, Jakarta – Mengejutkan saat melihat reaksi salah satu Video Sosial Experimen yang dimuat pada akun youtube Abdullah Onim Daily. Video ini berdurasi 7:43 menit dengan judul “REAKSI ORANG PALESTINA, Bakar Bendera Indonesia atau pilih $100#SOSIAL EXSPERIMEN”

Video ini di-upload sehari yang lalu oleh pemilik akun youtube Abdullah Onim Daily. Empat hari setelah hari kemerdekaan Indonesia.

Saat tulisan ini dibuat, Video ini pun telah ditonton sebanyak 3.101.731 kali dan mendapatkan 241 ribu jempol suka.

Video ini berisikan Sosial Experimem seprti judul yang termuat pada paragraf pertama tulisan ini. Dalam tampilan video ini, ada beberapa masyarakat palestina yang sedang diwawancarai.

Sebagai Social Experimen mereka diberi Bendera kemerdekaan Indonesia, Merah Putih dan Satu Korek Api berwarna Biru.

Namun, sebelum mereka diminta untuk melakukan perintah dari Sosial Experimen ini, terlebih dahulu mereka ditanya seputar tempat kesehatan di jalur Gaza Utara. Salah satunya adalah Satu-satunya Rumah Sakit terbesar di Jalur Gaza Utara buatan Indonesia, persembahan untuk Palestina. RS ini menjadi jawaban dari mereka.

Setelahnya, mereka ditanya dengan Bendera Kemerdekaan Mereh Putih milik Indonesia. Apakah mereka kenal atau tidak dengan bendera yang disodorkan kepada mereka? Dan mereka pun berkata “Saya kenal, ini adalah bendera Kaum Muslim terbesar dunia, Indonesia”

Kemudian, mereka pun disodorkan Bendera yang diprint out di selembar HVS, Korek Api berwarna Biru dan Uang sebesar 100 Dolar Amerika sebagai bentuk hadiah. Mereka diminta, apakah berani membakar Bendera Indonesia tersebut atau tidak?

Penannya Pertama, langsung meminta 100 Dolar Amerika itu diberikan padanya. Ia dengan lantang berkata “Saya siap bakar 100 $ Amerika” dengan alasan “tak mungkin saya membakar Bendera Indonesia, Kaum Muslim terbesar dunia. Indonesia dan Palestina adalah saudara kembar, Indonesia akan berdiri sampai Palestina sampai kemerdekaannya”. Uang 100 Dolar Amerika digengamannya, ia kembalikan lagi.

Penannya Kedua, dimintai dengan pertanyaan serupa dan ia pun menjawab “Bahkan anda memberikan harta sebanyak dunia dan seisinya, saya tidak akan melakukannya, Indonesia adalah negara muslim yang selalu membantu palestina. Mustahil bila kami membakar Bendera Indonesia hanya karena uang”. Ia pun menyarangkan kepada pembuat video untuk tidak boleh membuat Sosial Experimen dengan mengunakan Bendera Indonesia untuk dibakar. Ia lalu mendoakannya “Semoga allah memberkahimu”

Penannya Ketiga, seorang Ibu Tua dengan mengunakan Kaca Mata Hitam saat ditanya mengenai kapan hari kemerdekaan Indonesia? Ia pun menjawab “saya tidak tahu kapan, yang saya tahu Indonesia dijajah oleh beberapa negara dan Indonesia berjuang tanpa henti hingga berhasil meraih kemerdekaan. Sebagai bangsa Palestina, kita akan selalu mendukung bangsa yang berjuang demi kemerdekaan dari penjajah, apapun bentuknya”

“dan kita rakyat Palestina, sedang berjuang melawan penjajah dan atas izin allah kita akan merdeka”. Ibu Tua ini saat disodorkan Bendera Indonesia, secara sponton langsung berkata “Bendera Indonesia, kita menghormati Bendera Indonesia, dan insyaallah Bendera Indonesia akan berkibar di dinding Al-Quds bersama Bendera Palestina”.

Lalu ia pun dimintai keberaniannya untuk membakar Bendera Indonesia, terlihat heran sembari dengan spontan dan berani berkata.

“mustahil saya bakar Bendera Indonesia. Saya siap membakar Bendera Israel. Jangankan 100 Dolar Amerika, imbalan 1 Juta Dolar pun tidak akan saya lakukan. Tak mungkin saya lakukan, ini saudara kami. Negara Muslim”

Penannya Ketiaga, terdapat dua Gadis Perempuan dengan mengunakan Hijab berwana Hitam bergaris Putih dan Merah Maron.

Saat disodorkan Bendera Indonesia, mereka berkata bendera tersebut adalah Bendera Indonesia. Mereka pun dimintai untuk membakar Bendera Indonesia. Dengan tegas mereka berucap, tidak.

“tidak, Indonesia adalah Negara Muslim, mengapa kami harus membakarnya” mengapa? “Karena Indonesia adalah negara yang selalu mendukung Palestina dan selalu memberikan bantuan kepada kami”

Sebagai bentuk closing staetment dari wawancara Sosial Experimen ini, mereka semua dimintai harapan mereka di 75 tahun kemerdekaan Indonesia.

“Semoga Indonesia selau maju, adil, sejahtera dan terhindar dari berbagai macam penyakit, salah satunya wabah Covid-19”

Mendengar persaksian yang disampaikan secara spontan dan lantang berani yang termuat dalam video ini, saya merasa merinding dan terharu sembari bersyukur atas nikmat allah yang menganugerahkan sebaik-baik saudara Se-iman yang fanatisme cinta sesama agama, Fanatisme Kesatuan dan tak luput dari melupakan kabaikan Negara Indonesia.

Video Sosial Experimen ini tidak hanya saja menampilkan kecintaan kepeda sesama agama sebagai bentuk kesatuan, namun mengajarkan kita banyak hal. Seperti, mencitai saudara se-iman, peduli sesama, menghargai dan mangakui kemerdekan negara merdeka, mengingat kebaikan orang lain, cara baik membalas kebaikan orang dan lebihnya mengingatkan kita, bangsa Indonesia tentang wasiat perjuangan bapak pendiri dan proklamator bangsa Indonesia, Soekarno dalam pidatonya pada tahun 1962.

“Selama kemerdekaan bangsa Palestina belum diserahkan kepada orang-orang Palestina, maka selama itulah bangsa Indonesia berdiri menantang penjajahan Israel.”

Selain dari mencitai sesama, saya lebih merasa terharu sebagai rakyat Indonesia dengan nama Indonesia yang dibangga-banggakan oleh mereka, rakyat Palestina.

Selain itu, sebagai rakyat Indonesia yang telah merdeka dahulu. Saya pun teringat dengan cita dan harapan Indonesia sebagaimana termaktub dalam alinea pertama UUD 1945.

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan”

Bahwa sudah 75 tahun kemerdekaan Indonesia, merdeka dan terlepas dari intervensi negara lain, penjajah. Sudahkah kita mengrefleksikan semangat kebangsaan kita untuk turut serta dalam menegakkan perikemanusiaan dan perikeadilan demi terciptanya kemerdekaan untuk setaip bangsa?

Indonesia adalah negara terbesar ke-4 dunia dengan penuh cita dan harapan mulia untuk menciptakan ketertiban, perdamaian dan keadilan sosial dunia. Kemuliaan inilah dengan semangat patriotisme dan kebangsaan, tersusunlah secara rapi dan sistematis menjadi satu integritas cita dan harapan dalam pembukaan UUD 1945 oleh para the founding fathers kita.

“dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”

Sebagai negara besar dengan penuh harapan mulia demi ketentraman dunia, 75 tahun kemerdekaan Indonesia. Bangsa ini tidak diharapkan untuk berdebat pada ruang kecil dan final, seperti kembali lagi memperdebatkan status Pancasila sebagai Ideologi negara atau tidak. Pada ruang ini, di usia Indonesia yang semakin tua ini, kita tidak butuh perdebatan yang menodai dan memecah belah kesatuan dan kedamaian yang dibungkus Bihineka sebagai Slogan Indonesia.

Tapi, pada kematangan Indonesia sebagai negara merdeka kita dituntut untuk merefleksikan ingatan kita tentang kemulian cita dan harapan Indonesia. Bahwa sudah sejauh mana kita turut andil dalam mencerdaskan kehidupan bangsa, perdamaian abadi, ketertiban dunia dan keadilan sosial. Pada bagian inilah mestinya kita sebagai bangsa yang besar perdebatkan untuk diperjuangakan.

Lebih-lebihnya, menyoal wasiat perjuangan Soekarno tentang kemerdekaan Palestina. Sejak ungkapan ini disampaikan pada 1962 sampai pada kemerdekaan Indonesia di 2020, dimana usia Indonesia menjadi 75 tahun. Hitung-hitung sudah 58 tahun berlangsung, antara saat ungkapan wasiat perjuangan atas kemerdekaan Palestina disampaikan sampai saat ini.

Kita patut mengevaluasinya. Bahwa 58 tahun berlangsung bangsa ini sudah sejauh mana memperjuangkan kemerdekaan Palestina?

Atau sudah sejauh mana bangsa ini mengingat wasiat bapak pendiri bangsa dan mau melaksanakannya sebagai bentuk kewajiban dari kehidupan berbangsa untuk melunaskan hutang bapak pendiri bangsa itu sendiri.

Kita patut untuk mengingat bahwa kemerdekaan Palestina adalah tanggungjawab Indonesia. Dan tanggungjawab Indonesia atas kemerdekaan Palestina adalah tanggungjawab pendiri bangsa, Soekarno.

Usia kemerdekaan bangsa ini yang semakin menua, bangsa ini diharapkan untuk tidak menciptakan klaster perpecahan baru dan kembali menciptakan dosa sosial secara nasional, baik dari pusat sampai pelosok negeri ini.

Tugas kita hanya satu di usia kemerdekaan Indonesia yang semakin menua ini, yaitu kembali membuka lembaran sejarah kebangkitan bangsa ini dan menciptakan kesuksesan cita dan harapan Indonesia yang tertuang dalam Pancasila dan UUD.

Jangan sampai bangsa ini menjadi bangsa penghianat, menghianati Soekarno dan khianat terhadap wasiat Bung Karno atas Kemerdekaan Palestina.