Oleh; Abdillah Aras Solissa, Mahasiswa IAIN Ambon asal Buru Selan.

Sergap.online – Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada), adalah sistem yang diatur oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk memilih pimpinan tertinggi daerah berdasarkan putusan Peraturan Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2019 tentang; Tahapan, Program dan Jadwal Penyelenggaraan Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur, Bupati dan Wakil Bupati, dan/atau Wali Kota dan Wakil Wali Kota Tahun 2020 pada tanggal 5 Agustus 2019.

Terdapat 270 daerah yang akan melaksanakan pesta demokrasi pada 9 Desember mendatang. Hal dimaksud berdasarkan kesepakatan bersama antara Pemerintah, DPR dan lembaga penyelenggara pemilu (KPU, Bawaslu dan DKPP).

Walau dalam kondisi sedang pandemi Covid-19, pun perbincangan Pilkada kiang memanas. Sudah semestinya menjadi kewajiban kita bersama untuk mematuhi aturan pemerintah dengan menjaga protokol kesehatan agar kita terhindar dari penyakit wabah, dan demi untuk menjaga kesehatan Indonesia.

Pilkada adalah momentum terbaik, kesempatan ini, setiap orang di setiap daerah, akan tertarik membicarakan politik. Tak heran bila Pilkada sering disebut sebagai “habit periode” orang mendapatkan pendidikan politik.

Wacana Pilkada ini semakin memanas di pelbagai kalangan, hingga bahkan terlihat ketat persaingan mempertahankan para kandidat dengan berargumen kemenangan.

Dewasa ini, dalam hal sistem politik yang dibangun sejatinya mempunyai suatu sosialisasi politik sehat.

Hal yang kemudian sebagai jalan terjan menuju politik yang berlandaskan pancasila dalam menentukan pemimpin demi pembaharuan masyarakat, maka sepatutnya sebagai warga negara yang cinta akan demokrasi dalam pandangan 4 (Empat) konsensus bangsa Indonesia ini harus seadil – adilnya dikedepankan, menjaga pilkada dengan sehat untuk mewujudkan politik yang santun demi untuk menghindari politik intimidasi, provokasi dan saling menghujat antara satu sama lain bahkan konflik kekerasan sesama saudara.

Bagaimana harus menghindari problem ini?

Hal yang mampu menghindarinya berangkat dari pelbagai persoalan terkait memberikan edukasi pendidikan politik sehat kepada kalangan masyatakat untuk menjaga dan merawat pesta demokrasi secara profesinal dan integritas. Hal ini membutuhkan kerja keras dari pihak penyelenggara dan elemen masyarakat yang memiliki pemehaman baik soal politik.

Dalam kehidupan bermasyarakat, demokrasi persaingan perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar.

Perbedaan memilih adalah suatu hal yang lumrah dalam diri individual untuk menentukan siapa saja; terpenting saling menjaga hubungan kesosialan.

Saya berpesan, terkhusus kepada pemuda (Mahasiswa). Mari saling mendorong memberikan sub pengetahuan yang baik kepada masyarakat agar menjaga pilkada dengan efisien, karena pertama dan utama mahasiswa sebagai sumber solusi.