Penulis Hamis Souwakil adalah Ketua Lembaga Kajian Hukum Mahasiswa Indonesia (LKHMI) dan Mahasiswa Hukum Universitas Ibnu Chaldun (UIC) Jakarta.

JAKARTA – Ketika semalam, saya bersama salah satu kuasa hukum Habib Rizieq Syihab.

Saya bertanya perihal Munarman yang menjadi tangkapan Densus 88 tanpa memandang asas Hak Asasi Manusia dan prinsip hukum.

Sederhananya, saya bertanya. Bang, apa tanggapan abang, soal penangkapan Munarman yang tidak mengedepankan prinsip hukum?

Singkat jawabnya, yang berhubungan dengan habib, akan menjadi gelap untuk disenter. Bahkan, terancam kasus klien selain habib sekalipun.

Alasan penangkapan Munarman dikarenakan, ia pernah terlibat dalam pembentukan salah satu organisasi yang dicap sebagai organisasi terlarang dan teror, ISIS.

Dugaan alasan inilah menjadikan Munarman ditangkap tanpa dipandang prinsip hukum yang berlaku.

Setidaknya, Munarman adalah salah satu dari sekian banyak penegak hukum. Statusnya, sebagai seorang advokat sebagaimana saat sebelum ditangkap, ia adalah kuasa hukum Habib Rizieq Syihab.

Peranan dan kedudukannya telah diatur secara rinci dalam ketentuan UU 18 tahun 2003 tentang Advokat pasal 5 ayat 1. Artinya, Munarman dan pihak kepolisian adalah sama sebagai penegak hukum. Sehingga, dalam benak awam, saya mengasumsikan setidaknya, ada panggilan klarifikasi lebih dulu sebelum dilakukannya tindakan ditersangkakan, dan kemudian ditahan.

Mengulas soal dugaan keterlibatan Munarman dalam ISIS tersebut, menurut hemat saya. Hal demikian tidak dapat dijadikan sebagai bukti permulaan yang cukup sebagaimana ketentuan yang diatur dalam pasal 17 Kitab Undang-undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), sehingga Munarman langsung secara cepat dieksekusi Densus 88.

Sebab, dugaan demikian secara langsung publik dapat mengetahuinya dan melakukan bantahan terhadap aksi penangkapan tersebut. Bahwa, Munarman selain menjadi kuasa hukum Habib Rizieq Syihab, ia sebelumnya merupakan Sekretaris Umum Front Pembela Islam (FPI) yang saat ini telah dicap sebagai organisasi terlarang.

Apalagi, penangkapan tersebut dilakukan atas dasar dugaan keterlibatan, yang bila dilihat dan dikorelasikan dengan asas locus delicti dan Tempus delicti, sungguh berlawanan. Sebab, kapan waktu dan tempat terjadi, kapan pula tindakan dieksekusi. (Mungkin bisa lebih dikoreksi oleh para guru pakar hukum pidana).

Semasa di FPI, Munarman dan para anggota FPI secara lantang mengutuk tindakan terlarang; terorisme, radikalisme, serta tindakan teror lainnya yang berakibat pada ketidaknyamanan publik dan Indonesia sebagai negara kesatuan yang berasas Pancasila.

Munarman dan FPI, dahulu selalu melakukan tindakan kritik keras terhadap tindakan ataupun kebijakan kelompok bahkan pemerintah sekalipun yang dianggap menyimpan; berlawanan dengan keselamatan umat, bangsa Indonesia.

Tidak etis, dan pantas dianggap berlawanan dan mengabaikan prinsip-prinsip hukum karena tanpa melakukan tindakan surat panggilan terlebih dulu untuk diklarifikasi, melainkan secara sepihak dieksekusi selayaknya teroris.

Tindakan aksi penangkapan Munarman tersebut, memunculkan dugaan besar bahwa ada kepentingan apa, siapa dan upaya atas apa sehingga di tengah Munarman sebagai seorang kuasa hukum yang membela seorang kliennya, Habib Rizieq Syihab. Malah ditangkap dan melibatkan Densus 88 dalam perkara tersebut.

Sungguh kita ketahui, bahwa tentu di dalam perkara Habib Rizieq Syihab yang memiliki sekian banyak kuasa hukum. Tentu, peranan dan kehadiran Munarman sungguh sangat dibutuhkan.

Sosoknya, adalah kuasa hukum yang selalu bersama dan satu dalam wadah perjuangan bersama Imam Besar Habib Rizieq Syihab. Banyak persoalan yang telah diselesaikan bersama, dan itu atas keterlibatan Munarman juga sebagai seorang kuasa hukum.

Saya ingin mengakhiri tulisan ini, dengan ingin berasumsi bahwa dengan peranan Munarman yang begitu sangat dibutuhkan dalam perkara Habib Rizieq Syihab, menjadi gelap untuk diterangi. Sehingga, dalam proses penangkapan terlihat begitu terstruktur dan terukur.

Terakhir, saya ingin bertanya. Namun, sebelumnya saya meminta maaf dahulu, sebab tulisan ini hanyalah buah hasil dari keterlibatan saya dalam melihat perkembangan media sosial yang dipenuhi pemberitaan penangkapan Munarman.

Bahwa, ada kepentingan besar apa yang ingin diuntungkan dari penangkapan Munarman yang secara langsung memberhentikan keterlibatannya dalam perkara Habib Rizieq Syihab?