SERGAP.ONLINE – Fenomena bahaya radikalisme dan terorisme masih terjadi di Indonesia hingga hari ini. Masih segar di ingatan kita dengan serangan bom bunuh diri di Gereja Katedral Makasar dan serangan Mabes Polri Jakarta beberapa waktu lalu.

Keadaan ini mendapatkan respon dari anggota DPR/MPR RI, Netty Prasetiyani Aher yang menyayangkan tindakan terror tersebut, baginya tindakan terror merupakan tindakan yang tidak manusiawi dan tidak seorangpun dapat membenarkannya. Menurutnya, salah satu langkah dapat menepis tindakan terror adalah Empat Pilar Kebangsaan.

“Saya pikir tak seorangpun membenarkan tindakan ekstrimisme dan kekerasan bahkan sampai menghilangkan nyawa orang lain. Sungguh, radikalisme dan terorisme masih menjadi ancaman yang mengganggu perdamaian dan keberagaman & persatuan bangsa. Oleh karenanya, sosialisasi, Internalisasi dan pembiasaan nilai pilar MPR seperti pancasila, NKRI, Bhineka Tunggal Ika, dan UUD tahun 1945, kepada masyarakat terkhususnya milenial dan keluarga menjadi penting untuk menangkal paham radikalisme dan terorisme,” terang Netty dalam rilis media, Selasa, (6/4).

Diketahui para pelaku serangan teror beberapa waktu lalu merupakan WNI yang masih berusia muda. Hal ini menurutnya, perlu untuk diantisipasi dikarenakan usia muda Indonesia jauh lebih dominan ketimbang usia lanjut.

“Indonesia sedang mengalami bonus demografi dimana jumlah usia produktif lebih banyak dari yang tidak produktif. Sensus tahun 2020 menguak bahwa 53,81 persen dari total 270,20 juta penduduk. Artinya, sebanyak 135 juta lebih anak muda Indonesia dalam ancaman radikalisme dan terorisme. Ini harus dicegah segera,” tambah Netty.

Pencegahan upaya terorisme dan radikalisme dapat dilakukan dalam bentuk kontra radikal dan deradikalisasi. Kemudian legislator dapil Jabar 8 ini menambahkan banyak hal upaya yang bisa dilakukan oleh masyarakat khususnya dalam bentuk kontra radikal.

“Upaya deradikalisasi kan bagi yang sudah terpapar jadi kita serahkan pada aparat berwenang dan para pakar. Semua pihak terkait harus membekali masyarakat dan keluarga dengan narasi dan informasi kontra radikal yang kekinian dan menarik tentang Indonesia dan bahaya radikalisme dan terorisme di berbagai platform dan media social,” tambahnya.

Lebih lanjut, Anggota Majelis Syuro Persatuan Umat Islam (PUI) ini juga berpesan pada masyarakat dan generasi muda jangan sampai mudah diadu-domba dan dihasut untuk berbuat kekerasan oleh oknum tak bertanggungjawab dengan dalih apapun.

“keluarga harus dibentengi dengan pemahaman agama yang baik dan informasi yang berimbang tentang potensi radikalisme. Karena anak-akan kembali dan menghabiskan banyak waktu dengan keluarga, jadi keluarga ikut mengawasi dan jadi tempat yang nyaman. Sehingga ketahanan keluarga jadi salah satu cara menangkal radikalisme dan terorisme di Indonesia,” tutup Netty.