Sergap.Online Buru Selatan – Menyoal Pilkada 2020 mendatang di Buru Selatan yang mengikut sertakan istri bupati, Tagop Sudarsono Solissa sebagai salah satu bakal calon Bupati Kabupaten Buru Selatan mendapat banyak kritikan dan penolakan dari sejumlah pemuda dan mahasiswa Bursel.

Sebelumnya, diketahui Istri Bupati, Safitri Malik Solissa adalah mantan anggota DPRD Provinsi Maluku, daerah perwakilan Buru – Buru Selatan Periode 2014 – 2019, dan pada Pileg 2019 lalu ia  mencalongkan diri sebagai DPR-RI dan mengalami kegagalan.

Rencananya, pada Pilkada serentak 9 Desember 2020 mendatang, ia kembali mencalonkan diri sebagai kepala daerah Kabupaten Buru Selatan seperti digaungkan oleh sejumlah pendukung dan didukung oleh Gambar Posko SMS yang beredar di Sosial Media, Facebook.

Misi maju menjadi kepala daerah Bursel ini mendapat banyak sorotan kritik dari sejumlah pemuda dan mahasiswa Bursel.

Seperti yang terlihat pada status dinding Facebook milik Al-Hams Qamarallah yang mempertanyakan soal kelayakan Safitri Malik Solissa sebagai bakal calon bupati periode lima tahun kedepan.

“Pantaskah Kita memperjuangkan Safitri Malik Soulisa (SMS) pada perhelatan Pilkada 9 Desember mendatang?”

Status ini kemudian mendapat balasan dari sejumlah mahasiswa Buru Selatan. Ada yang berkata sepertinya tidak layak, stop berhenti, fokus memilih anak negeri dan bahkan ada yang mempersoalkan secara UU dan tatanan Adat dan  Budaya yang berlaku di Buru Selatan dan Maluku secara umum.

Berikut bentuk komentar kritikan dan dukungan sejumlah mahasiswa Buru Selatan pada status akun Al-Hams Qamarallah tersebut.

1. Abas Djafar Souwakil
Ia mengatakan sepertinya sudah tidak layak lagi SMS dicalonkan menjadi bupati dengan alasan track recordnya yang tidak mendukung.

2. Mosazi Bahta
Ia tidak mempersoalkan status SMS sebagai kandidat, karena menurutnya adalah hak Demokrasi

3. Lessylawang
Ia mengatakan dengan keras SMS sebaiknya memberhentikan niat sucinya sebagai kandidat bakal calon bupati Bursel dengan alasan bahwa majunya SMS sebagai bupati adalah bagian dari upaya membangun sistem dinasti kekuasaan yang berdampak, kelak pada ruang ekspresi putra daerah.
Menurutnya, ini adalah skenario yang dibuat dengan rapi untuk membatasi ruang pergerakan anak negeri. Juga dengan alasan track record SMS yang tidak memiliki konstribusi terhadap daerah saat menjadi anggota legislatif Provinsi Maluku.

4. Husen Solissa
Husen beranggapan sebaiknya pilkada mendatang lebih memfokuskan putra daerah. Husen beralasan SMS tidak memiliki prestasi apapun di saat memikul amat rakyat. Menurutnya, ini adalah alasan senderhana yang harus dijadikan catatan sebelum bergeser lebih jauh.

5. Ibrahim Yusuf Fatsey
Ibrahim sedikit memiliki pandangan yang agak berbeda dengan lainnya, walaupun pada akhirnya ia menolak misi SMS sebagai Bupati.

Menurut Ibrahim, misi SMS bila dipandang dari sisi aturan demokrasi yang berlaku di Indonesia, maka hal itu didukung secara UU. Namun, bila dipandang dari perspektif Hukum Islam, maka hal tersebut tidak dibenarkan. Dalam makna misi SMS ditolak.

Ia berpatokan dengan Hadits Bukhari yang tidak memperbolehkan wanita menjadi pemimpin.

“Suatu kaum tidak akan bahagia/sejahtera apabila mereka menyerahkan kepemimpinan mereka kepada wanita. (HR. Bukhari)”

Tidak hanya itu, Ibarahim pun memandang status tersebut dari perspektif adat dan budaya yang berlaku di Bursel dan Maluku pada umumnya. Menurut Ibarahim, wanita dalam kehidupan Orang Maluku atau Bursel, ditempatkan pada bagian belakang (Dapur). Ini adalah warisan leluhur yang harus diteruskan, karena para leluhur mengetahui bahwa wanita tidak mampu memimpin demi kemaslahatan rakyat.

Untuk menjadi informasi lebih soal perkembangan tanggapan masyarakat Buru Selatan terhadap istri Bupati, Tagop Sudarsono Solissa. Safitri Malik Solissa (SMS) dapat dilihat pada akun milik Al-Hams Qamarallah. (Red.Sergap)