Abdurahman Soulissa, Mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial Politik Universitas Ibnu Chaldun Jakarta asal Buru Selatan, Maluku

Sergap.Online, Jakarta – Berdasarkan Peraturan Komisi Pemilihan Umum (PKPU) No. 5 tahun 2020 tentang Tahapan, Program, dan Jadwal Penyelenggaraan Pilkada Tahun 2020. Pilkada serentak yang akan berlaga di 270 wilayah akan tetap dilaksanakan pada 9 Desember mendatang. Dimana 4-6 September digelar pembukaan dan kampaye pada 26 September.

Menjelang Pilkada ini tentu menarik perhatian semua kalangan baik Elit Politik, Aktivis Mahasiswa, sampai pada kalangan masyarakat bawah. Dari pusat ibukota sampai pelosok Indonesia. Dari kantor, Rumah Kopi, sampai pada Gazebo rakyat desa.

Bahkan dinding media sosial tidak ada habisnya membicarakan soal Pilkada serentak pada 2020 mendatang ini. Ada yang menyampaikan penolakan Pilkada dengan alasan pandemi masih berjalan dan diselesaikan terlebih dahulu, juga ada yang mendukung dengan alasan yang memperkuat, bahkan ada yang netral dan memberikan edukasi sebagai penguatan nilai-nilai demokrasi.

Salah satunya akun Facebook milik Rahman Soulissa yang juga merupakan Mahasiswa Fakultas Sosial Politik Universitas Ibnu Chaldun Jakarta asal daerah Buru Selatan, Maluku yang juga akan turut berlaga di Desember mendatang.

Mahasiswa yang biasa disapa Rahman ini mengatakan pesta demokrasi pilkada tinggal beberapa lagkah lagi. Pilkada ini jangan sampai hanya menjadi ajang untuk mencari keuntungan semata oleh pihak-pihak tertentu atau pribadi.

Menurut amatannya tentang fakta yang terjadi di daerah Bursel para Elit Politik Lokal yang bermodalkan uang membuat mereka selalu tampil selayak selebriti. Mereka berlomba masuk partai politik dan mengajukan diri sebagai calon pemimpin daerah.

Menurutnya, dalam kondisi ini masyarakat harus lebih ekstra hati-hati dan jelih untuk melihat figur pimpinan daerah kedepan. Kiranya kesalahan 10 tahun sejak pilkada pertama di Bursel dapat diperbaiki oleh pemimpin 5 tahun mendatang, maka secara sistematis pembagun infastruktur dapat berjalan dengan baik sesuai keinginan bersama.

Selanjutnya, menurut Rahman tentu pilihan pemimpin pada pilkada mendatang tidak hanya mengandalkan antusias, tetapi juga membutuhkan kecerdasan dan akal sehat dalam melihat figur pemimpin daerah kedepan.

“tentunya sangat memerlukan sikap cerdas para pemilih untuk memainkan peran-peran utama dalam upaya mewujudkan cita-cita perubahan itu”. (Red-Sergap)