Sergap.online, Jakarta – Ujaran kebencian, rasis, dan penghinaan melalui akun sosial media facebook (FB) terhadap suku Binongko di Wakatobi, Sulawesi Tenggara menuai sorotan. Pemilik akun FB yang menamai diri Wakatobi Bersinar, pada Jumat, 28 Agustus 2020 menulis status di linimasanya sebagai berikut “Memang beda ya karakter masyarakat Binongko di dunia nyata dan di sosial media. Di dunia nyata berikrar pakai otak, di sosmed berpikir pakai p******t“, sontak memicu kecaman dan perasaan terhina masyarakat Binongko yang tersebar di beberada wilayah di Indonesia, reaksi ini terlihat dari kalimat-kalimat yang dilontarkan kelompok-kelompok paguyuban masyarakat Binongko baik di group Fb maupun group WhatsApp. Kalimat yang dinilai rasis dan mengandung ujaran hinaan tersebut juga telah dibagikan atau disebarluaskan ke group FB Wakatobi Online yang beranggotakan 19 ribu lebih.

Akun FB Wakatobi Bersinar menggunakan foto Arhawi dan pasangan politiknya yang menulis dan menyebarkan tulisan ujaran penghinaan terhadap orang Binongko

Diketahui bahwa pemilik akun FB Wakatobi Bersinar menggunakan foto profil Bupati Wakatobi, Arhawi, sedangkan frasa Wakatobi Bersinar adalah slogan yang dipakai Arhawi untuk program pembangunannya. Ketika awak media ini mengunjungi akun Wakatobi Bersinar, sudah tidak ditemukan lagi status tersebut, demikian juga di group FB Wakatobi Online, tulisan itu sudah lenyap, namun foto hasil screenshotnya telah terlanjur beredar luas.

Tulisan akun FB Wakatobi Bersinar yang menuai kecaman
Brigjen (Purn.) Mahu amin

Salah satu tokoh masyarakat Binongko yang mengecam status akun FB yang menggunakan foto Arhawi tersebut adalah Brigjen (Purn.) Mahu Amin, saat ditemui awak media (Senin, 31/08/2020) Pak Jendral asal Binongko ini berujar, “Saya sebagai anak Binongko sangat tersinggung dan terhina dengan kalimat itu. Saya sudah menghubungi Pak Arhawi terkait hal ini, saya mengatakan jika Bapak Arhawi sebagai Pejabat Daerah pasti sangat tahu adat dan etika bertutur, namun beliau mengatakan kepada saya jika itu adalah akun palsu yang sengaja mengkonflikkan beliau. Namun saya merasa aneh, jika itu memang akun palsu, kenapa beliau tidak berupaya mencari si Pemilik Akun, ini malah kesannya sikap beliau seolah-olah acuh saja, padahal beliau bisa komplain atau memberi klarifikasi menyikapi ujaran penghinaan yang menjatuhkan harga diri kami sebagai orang Binongko”.

Ketika awak media meminta konfirmasi Pak Arhawi, jawaban yang kami terima pun kurang lebih sama yakni melalui pesan WhatsApp (WA) beliau menjawab, “Itu akun palsu yang mengatasnamakan Wakatobi Bersinar untuk mengharcurkan saya, dan dimohon agar kita semua jangan terprovokasi dengan akun-akun yang tidak bertanggung jawab itu, terima kasih”.

Jawaban Arhawi di atas ditanggapi berbeda oleh Brigjen (Purn.) Mahu Amin, “Jika itu akun palsu yang memicu konflik, harusnya merasa terpanggil untuk melakukan klarifikasi ke publik karena ada yang memalsukan identitas dan bermaksud menghancurkan beliau, tapi ini kan tidak ada, beliau lepas tangan dan berpikir karena ini situasi politik, sehingga bersikap biasa-biasa saja. Tapi, saya tidak. Saya tidak menganggap ini konsekuensi dari situasi politik namun harga diri saya sebagai suku Binongko merasa sangat terhina”

Lebih lanjut Brigjen (Purn.) Mahu Amin mengatakan jika Pak Arhawi sebagai pejabat merasa terzalimi, kenapa tidak meminta bantuan aparat penegak hukum untuk mencari pemilik akun palsu itu juga meminta maaf kepada masyarakat Binongko atas ujaran kebencian dan penghinaan yang membuat kecewa hampir semua masyarakt Binongko.

Jurnalis Sergap, Erni Bajau bersama Tokoh Masyakat Binongko Brigjen (Purn.) Mahu Amin