Penulis: Puan Bakri, Tokoh Muda Milleneal

Sergap.online – Pilkada serentak tahun 2020 akan digelar di 270 kabupaten-kota, yaitu di 9 provinsi, 224 kabupaten, dan 37 kota.

Momentum politik pesta demokrasi kali ini, juga tidak lepas dari keikutsertaan beberapa kabupaten-kota di Provinsi Maluku.

Kontestasi “Karpet Merah” di bumi Al-mulk tersebut akan digelar pada 9 Desember mendatang sesuai kesepakatan Komisi II DPR RI bersama Menteri Dalam Negeri (Mendagri), Komisi Pemilihan Umum (KPU), Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu), dan Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP).

Dalam beberapa dekade terakhir, politik di negeri Raja-raja ini diniliai lebih berorientasi pada pasar (Pemilih) ketimbang gagasan. Sikap “Timses” semakin beragam, publik pun semakin kurang ideologis.

Guru besar pemasaran Aarhus University, Denmark, bernama Robert P. Ormrod. Mengatakan, bahwa orientasi pada pasar (Pemilih) dalam politik itu sebuah keniscayaan. Yang tersisa hanyalah gradasi, tingkat kedalaman pada orientasi pasar itu.

Jika kita memaknai pendapat Robert Ormond tersebut, maka secara tidak langsung, kandidat dipaksa oleh zaman untuk menerima kehendak pasar sebagai hal yang utama.

Kita tahu bahwa marketing politik di-era 2020 ini sangat terkait dengan orientasi pasar. “Ontalnisasi” dan “marketing kandidat” dari tim pendukung bahkan sering disebut inti dari marketing politik gaya baru.

Disisi lain, sikap perkubuan juga kian kuat mewarnai politik akar-rumput di negeri ini. Uniknya, sikap perkubuan itu bukan berbasis pada ideologi “sumbang-pikir” ataupun pada platform partai masing-masing. Melainkan pada figur politisi itu sendiri.

Sikap perkubuan yang ditunjukkan untuk pro terhadap si-A, si-B atau si-C. Lalu kemudian muncul ejekan-ejekan terhadap lawan perkubuan yang lain yang sekaligus menjadikan simbol fanatisme menjadi ganas. Saling sindir-menyindir di sosial media, seolah telah menjadi tontonan paling menarik akhir-akhir ini.

Yang paling menarik adalah, adanya sikap klaim-mengklaim tentang suku dan atau mempersoalkan ras masing-masing kandidat.

Fenomena politik “tribalisme” ini merujuk pada penganut-penganut sikap “Goblok-Totalitas”. Orang-orang yang tidak dewasa dalam berpolitik. Yang berlanjut hingga menganggap lawan politik seolah-olah musuh sampai akhir. Padahal saudaranya sendiri bahkan keluarganya sendiri.

Jika situasi emosional yang irasional seperti ini selalu mewabah dalam setiap momentum demokrasi kita, maka kita tetap dalam pemujaan “paternalistik” terhadap figur politik itu sendiri.

Perihal fenomena timses di negeri kita ini, agaknya sedikit singkron dengan pendapat seorang penulis buku berjudul “Democracy for Sale “, Ward Berenschot, Ph.D mengatakan “Pemilu di Indonesia lebih berorientasi pada calon ketimbang parpol”.

Peran partai politik dan atau tim pendukung serta pengusung terbilang lemah dalam memberikan edukasi politik yang baik bagi pasar (Pemilih).

Padahal seharusnya tim sukses ini mampu menggalang mobilitas masa, memberikan edukasi politik yang baik, serta mengunggah program masing-masing kandidat di setiap postingannya bukan malah saling mencibir satu sama lain.

Maka strategi politik pun seharusnya didasarkan pada dinamika pasar itu sendiri. Sehingga fokus utama partai, timses dan kandidat adalah bagaimana meyakinkan pemilih bahwa kandidat tersebut layak untuk dipilih.